Reya…
Itulah nama panggilannya, yang ketika namanya terpanggil mendadak aku menggigil. Yang ketika namanya terseru desir selalu ada hal yang aku lakukan sebelum terfikir, tidak sempat bahkan untuk terlintas walau sedikit.
Dia sahabat penaku, walau kurang tepat jika aku menyebutnya demikian, karena sebagai teman di media sosial kita tak menggunakan pena untuk saling sapa. Kita hanya menggunakan waktu, kapan kita akan bersua di layar, aku bertanya pada sang pemilik waktu saja agar dia menjawab.
Bagaimana waktu dapat menjawab semuanya, jika sedikitpun tak ada kata tanya untuk sang pemilik waktu?
Rea Destiny…
itu nama lengkapnya. Sering kupanggil Reya, karena boleh dan aku ingin. Yatim piatu sejak kecil membuat Reya sangat mandiri. Kadang aku berfikir ketika orang saat lahir memulai kehidupan dari nol, dia memulai kehidupan dari nilai minus sekian dan dia berhasil. Dia sudah lama belajar menangis dengan suara diam yang lebih sunyi dari sunyi, tanpa menjadikan ada perasaan-perasaan lembab di kedua mata, juga tanpa nada-nada minor sebagai pengiringnya. Reya sini aku berbisik, “kau sungguh batu indah di alir sungai. Sungguh”.
Jika aku mulai membicarakannya, dipastikan bisa membuatmu bosan dan sedikit menghabiskan waktu lama untuk selesai.
Bibirnya tipis tapi cukup kuat untuk melindungi senyumnya, matanya tajam, akan sangat menakutkan jika dia melihat kamu pada sudut tertentu dengan keadaan tanpa senyum. Senyumnya khas, selain dia tak ada yang punya. Rautnya ekspresif, aku suka. Suaranya manja, dalam diam selalu samar terdengar. Badannya cukup tinggi, tapi bisa kuimbangi. Rambutnya panjang dan tebal, pakai conditioner atau tidak aku tak tahu. Dia suka warna merah jambu walau dia indah dalam biru.
Tapi…
Aku tidak menilaimu sebagian, aku mencintaimu sebagai utuh.
aku menyukai lambungmu, ususmu, pori-pori kulitmu, gerak kecilmu, caramu berjalan, caramu memegang buku, caramu menatap, caramu bercanda. semua pada dirimu aku suka. Kenapa? Karena aku tidak bisa untuk tidak suka pada orang lain dan membuatnya menjadi apa yang aku minta. Itu sama saja membuat dirinya menjadi aku.
Jika aku memintamu menjadi semua yang aku mau, itu sama saja membuat dirimu menjadi aku.
Namaku Hazel, Ahmad Hazel. Aku anak biasa dan sangat rata-rata. Ibuku janda penjual sayur di pasar, dia jantung dihatiku. Ayahku telah meninggalkan bilah bambu lantai rumah, setahun setelah menikah dengan peri yang selalu mengubah pedih menjadi sebaliknya. Entah dimana ayah menghabiskan usia dan ingatan tentang rumah.
Ketika SD, ketika anak-anak seumurku bercita-cita tinggi untuk menjadi presiden atau astronot, aku hanya bercita-cita untuk bisa menulis. Ya benar, menulis. Menulis apapun. Cita-cita yang sudah aku taklukan ketika umurku enam tahun, saat itu aku ingin sekali memberikan cerpen yang telah aku tulis didepan ibu, untuk menghibur ibu ketika dagangannya tidak laku.
Ibu membelikanku pensil seharga seribu rupiah untuk aku menulis. pensil yang secara harga tak terlalu berharga, yang aku gunakan untuk membuat lengkungan senyum ibu yang sangat berharga. Priceless.
Saat itu aku belum bisa membaca. Ya benar, membaca cerpen. Membaca dan menulis adalah dua hal yang berbeda, kaupun tahu. Untuk menulis cerpen kau hanya butuh pensil dan sedikit berkhayal, tapi untuk membaca cerpen kau butuh keberanian dan butuh kejujuran, butuh merah, hal yang sudah aku lakukan untuk ibu dan akan aku lakukan untuk Reya kelak. Merah untuk Reya. (.......bersambung)
My life is so predictable
Never any mistery
Ever since you shine the light,
all of that was history.
(Christian Bautista - Colour Everywhere)
No comments:
Post a Comment