Saturday, 1 August 2015

Reya

Ini tulisan yang belum selesai ketika aku masih kuliah dengan umur entah, masih item, kurus, galau dan tentu saja labil. Cerita fiksi, dan bukan cerita tentang aku. Tak ada maksud kuposting ini, selain untuk iseng. 
#1 MERAH UNTUK REYA
terang namun sedikit redup sejak pagi.
Tubuhku luluh, lusinan butir keringat keluar dari pori kulit yang hampir pucat. Ini bukan tanpa sebab, ini karena aku mengejarnya.
Betul, dia. Seseorang yang begitu aku ingin temukan kembali hari ini, yang walaupun sebenarnya telah tak pernah kupeluk erat sejak kemarin lalu. Aku berlari mengejarnya. Seperti apa yang setiap waktu aku lakukan selama 2 tahun kebelakang. Berjalan mengikuti langkah kaki berbetis kecilnya, kemanapun, bagaimanapun dan sampai kapanpun. Kau Suka ataupun tidak, yang jelas aku bahagia. Bahagia karena memiliki sepasang kaki yang dapat kuikuti, yang kelak mungkin akan berbalik mengikuti kemana pun aku pergi.
Sedikitpun tak pernah peduli apa katanya, atau pun apa kata mereka. Karena kini, tak lagi banyak, hal yang mampu membuatku tertawa HAHAHAHA, atau sekedar menyabitkan senyum lebar untuk kebahagiaan yang semakin jarang datang.
Sedikitpun tak pernah peduli seberapa pun bosan dirinya, atau diriku untuknya dan untuk mereka. Tak peduli pada siapa yang memanggilku setengah gila. Dan aku disini, masih tetap dibelakangmmu, mengejarmu, hingga entah. Karena bagaimana kau mampu membatasi rasa cinta yang ada di hatimu?
Siapa yang pernah mengajarkan cara melakukannya, Mario Teguh-kah? Kahlil Gibran-kah?  Atau Pramoedya Ananta Toer? Hari ini aku izinkan untuk aku setara dengan mereka ketiga nama yang telah disebutkan barusan untuk sedikit pesan.
Aku beri sedikit pesan:
“Berdiam diri, hanya akan membuat Tuhan berfikir kau tidak teramat menginginkan cinta itu” iya, sekalipun kau berdoa terus menerus.
Kini aku bukan lagi setengah gila, namun sepenuhnya. Terkena tekanan berat, Berulang kali merasakan yang membuatku tak lagi jadi diri sendiri.
Tepat hari itu, di satu bulan yang lalu. Aku menapaki tahun ke-lima di kampusku. Satu-satunya mahasiswa yang mungkin tak punya cita-cita selain agar dapat tetap bertahan hidup sampai lulus. Yang dunianya telah abu-abu, bahkan sebelum sempat di warnai.
Baik, aku memang manusia yang tidak memiliki sesuatu yang dapat aku banggakan padaku, orangtuaku, atau ‘tuk dirimu. Asal tahu saja aku tidak pernah juara kelas sejak sekolah, tidak pernah ikut kejuaraan apa pun, bahkan tidak pula pernah ikut lomba makan kerupuk di hari raya kemerdekaan Indonesia. Tapi sebentar, aku fikir lagi, akupun punya sesuatu yang sebenarnya kalian juga punya. Hanya kebetulan kadarnya lebih banyak saja di dalam DNA-ku. Aku adalah, manusia yang sulit sekali berbohong. Walau hanya untuk sekedar mengaku tidak buang angin di dalam ruang kelas. Maka dari itu, walau pun aku bodoh, aku tidak pernah bisa mencontek saat ujian. Jika aku tidak bisa menjawab soal yang melotot padaku, aku pejamkan mata didalam kelas. 
Kalian boleh percaya, bila aku ini pinokio, hidungku pasti pesek. Aku adalah si jujur yang malang. Sampai menginjak usia ke 22 tahun ini selalu saja gagal. Sejujurnya aku tidak sepenuhnya menyalahkan mereka. Ini hanya lantaran karena masa laluku yang buruk. Atau aku lebih suka menyebutnya kurang baik. Tuhan, tidak pernah memberimu sesuatu yang buruk. Manusia yang melabelinya demikian. Karena mereka merasa lebih benar dari Tuhan. Oke, abaikan omong-kosongku barusan.
Dan hari ini, tiba sudah waktunya aku menjadi lelaki sejati, si penegak kebenaran. Oke, itu juga sebenarnya berlebihan.
Tapi aku sudah bersumpah sebelum aku cuci kaki di malam kemarin, atas nama Fredy Mercurie bahwa aku akan menyatakan cintaku pada seseorang yang selama bertahun-tahun ini aku kagumi. Kejujuranku harus terus kulatih, salah satunya dengan cara menyatakan perasaanku padanya. Betapa dia telah membuat kegugupanku semakin menjadi setiap pagi sampai menjelang tidur, membawaku nyaris terbang tinggi, dan akhirnya jatuh lagi dan lagi. Ini tidak bisa kubiarkan, rasa sebaik ini mana bisa kuabai. Hidup di dunia sekali, tapi kenapa patah hati berkali-kali. Yang sekali, belum tentu lebih mudah. Itu mengapa, tak ada alasan tak berani patah.
Aku harus berani patah!
Aku mencintainya! Cinta, mereka sebenarnya tak sulit dimengerti. Kadangkala mereka hanya enggan kau kesampingkan. Dan aku benar mencintainya.
Dia, nama yang selalu terdengar indah di telingaku. Teman FaceBook-ku dulu. sesekali kami saling melepas pandang, dan sebanyak kalinya aku mencuri padang padanya, tapi sangat jarang sekali kami saling bertatap. Seringkali aku mencuri pandang darinya, dan seringpula aku kepergok olehnya. Mengagumkannya, selama hampir 3 tahun kami berada di lingkungan yang tidak sama.
Kami jauh berbeda. Seperti air dan pasir, yang walau jarak mereka dekat. Mereka sungguh tak akrab. Aku tidak jelek, tidak juga miskin. Aku memang bodoh, tapi aku tidak sampai perlu dikasihani. Kami hanya berbeda, itu saja. Kalian akan mengerti setelah nanti.
“Reya!” Teriakku. Dia mencoba meraih tangkap indera pendengarannya di tengah kerumunan manusia lain. Dia menoleh, mencoba mencari suara yang sempat menghinggapi telinganya, tapi kemudian kembali berjalan. “Reya!” kedua-kalinya aku teriak, hanya saja dengan intensitas teriakan lebih kuat. Dan dia kembali menghentikan langkahnya. Lalu aku mencoba berlari ke arahnya berdiri. Sekarang kami saling berhadapan, dan hanya di batasi sisi tak nyata, udara. Oh my….., what i must supposed to do. I am speechless. (......bersambung)

No comments:

Post a Comment